Langsung ke konten utama

6 Fakta Unik Rumat Adat Honai Papua

Rumah Honai merupakan rumah adat suku Dani yang tinggal di lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Keberadaannya bisa ditemukan di lembah-lembah dan pegunungan di tengah pulau Papua dengan ketinggian 1.600 – 1.700 meter di atas permukaan air laut.

Selain suku Dani, ada juga beberapa suku lain yang hidup di sekitar di lembah ini yaitu Suku Yali dan Suku Lani yang memiliki populasi sekitar 100.000 jiwa.

Sumber: Wikipedia.org

Apa saja sih keunikan yang dimiliki Rumat Adat Papua yang satu ini? Mari kita simak sama-sama:

1. Bentuk Khas Mirip Jamur

Rumah adat ini memiliki ciri khas yang unik yaitu bentuknya yang seperti jamur dan atapnya menyerupai kubah kecil. Honai berbentuk dasar lingkaran, memiliki rangka kayu berdinding anyaman dan yang terbuat dari jerami.

Ketinggian rumah ini hanya sekitar 2,5 meter dan jika dilihat dari atas menyerupai jamur berwarna cokelat kehitaman berjajar sepanjang lembah.


2. Terbuat dari Bahan yang Ditemukan di Alam

Bangunan Honai sangat ramah lingkungan karena seluruh bahan berasal dari bahan alam yang dapat diperbaharui. Lantai tanah, dinding terbuat dari anyaman dan atapnya dari bahan jerami.


3. Mampu Menghalau Udara Dingin Pegunungan

Walaupun bahan dan bentuknya sederhana, untuk suku yang tinggal di pegunungan, rumah Honai ini dapan menghalau dinginnya hawa pegunungan. Atap rumah yang menjulur hingga ke bawah ini ternyata agar permukaan dinding tidak basah oleh hujan. Suhu udara di sana mencapai 10-15 derajat Celcius di waktu malam, sehingga rumah ini tidak memerlukan jendela.


4. Hanya Memiliki Satu Pintu dan Dua Lantai Ruangan dengan Fungsi Berbeda

Rumah Honai memiliki satu pintu sebagai akses keluar-masuk. Terdapat ventilasi kecil agar aman dari masuknya binatang liar. Terdapat 2 ruangan yang terpisah di 2 lantai dengan fungsi berbeda. Lantai 1 untuk tidur sementara lantai 2 untuk kegiatan lainnya seperti bersantai, makan, dan aktivitas keluarga lainnya.

Di dalam Honai juga ada tempat galian tanah yang berfungsi sebagai tungku api untuk penerangan, menghangatkan tubuh, dan memasak.


5. Khusus Dihuni oleh Laki-laki saja

Sebenarnya rumah Honai hanya boleh dihuni kaum laki-laki saja. Kaum perempuan tinggal di rumah yang di sebut Ebei. Sebenarnya bentuknya hampir sama dengan Honai, hanya bangunan Honai lebih tinggi. Selain Honai dan Ebei ada juga bangunan untuk hewan ternak yang dinamakan Wamai.


6. Juga Berfungsi Sebagai Penyimpanan Peralatan Perang dan Berburu

Selain sebagai tempat tinggal, rumah Honai juga digunakan untuk menyimpan peralatan perang atau berburu. Rumah adat ini juga merupakan tempat menyimpan segala simbol dan peralatan warisan leluhur. Rumah Honai merupakan tempat untuk melatih anak laki-laki agar menjadi orang yang kuat saat dewasa nanti sehingga dapat melindungi keluarga dan sukunya. Juga agar mahir berburu dan mampu mengumpulkan makanan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Tulisan Mie ada huruf "E" nya?

Menurut wikipedia mi atau yang lebih sering ditulis mie adalah adonan tipis dan panjang yang telah digulung, dikeringkan, dan dimasak dalam air mendidih. Di restoran, kedai makan, atau dikemasan makanan kita lebih sering melihat tulisan Mie daripada Mi. Lalu mengapa harus ada huruf E-nya? Apakah Mie atau Mi yang merupakan bahasa baku? Sumber: pxhere.com Jika kita bermaksud menggunakan bahasa formal maka menurut KBBI, ejaan yang benar adalah Mi bukan Mie. Lalu mengapa bisa ada tambahan huruf E dibelakangnya? Bahkan merek dagang mi instan terkenal Indomie menambahkan huruf E. KBBI yang memuat kata Mi di dalamnya dibuat pada tahun 1988, sementara Indomie pertama kali muncul ditahun 1972. Penyebabnya adalah ejaan lama yang menggunakan ie, sama hal nya penulisan "oe" untuk "u" pada nama Soekarno dan Soeharto. Karena pengaruh ejaan Belanda, yang menjajah bangsa Indonesia selama 3 abad juga memberi pengaruh signifikan pada bahasa Indonesia. Cara penulisan kata-kata dalam b...

Ternyata 5 Makanan Khas Indonesia ini Warisan Kuliner Belanda!

Indonesia dikenal memiliki keberagaman kuliner. Selain dipengaruhi oleh budaya lokal, sumber daya, dan kondisi alam, keberagaman kuliner juga dipengaruhi oleh akulturasi budaya. Sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia pernah dijajah selama 350 tahun oleh Belanda. Jadi sangat memungkinkan jika kuliner yang ada di Indonesia terpengaruh juga oleh kuliner dan budaya Belanda. Dan tahukah kamu, 5 makanan yang selama ini kita ketahui "Indonesia Banget" ini ternyata hasil akulturasi dengan kuliner Belanda? 1. Cue Cubit Sumber: 123rf.com Siapa sangka, kue cubit yang masih kerabat dekat kue pukis ini juga dipengaruhi dari kuliner Belanda. Kemungkinan besar, kue ini merupakan adaptasi lokal dari poffertjes, panekuk mini yang diperkenalkan bangsa Belanda ketika menjajah Indonesia. Sebagaimana di Indonesia, di Belanda juga poffertjes juga populer sebagai jajanan pinggir jalan (street food), terutama ketika musim panas. Bahkan bahan-bahan dan cara membuatnya pun hampir sama. 2. Semur Sumb...

Kenapa Disebut Gula Merah padahal Warnanya Cokelat?

Gula merah atau disebut juga Gula Jawa adalah pemanis yang terbuat dari sari nira batang pohon palem atau kelapa. Gula ini biasanya berbentuk tabung atau silinder. Disebut gula jawa karena gula ini banyak diproduksi di daerah Jawa. Lalu, menapa Gula Merah dinamakan gula merah, padahal warnanya coklat? Sementara dalam bahasa Inggris bisa disebut brown sugar. Sumber: lazada.com Ada pendapat bahwa istilah gula merah sebenarnya bukan dari warna wujud gula merah itu sendiri. Akan tetapi lebih ke efek warna pada masakan atau makanan yang dibuat dengan gula merah tersebut. Tapi sebenarnya juga hasil pada masakan ga merah-merah banget yah! Meskipun dalam berbahasa ada aturannya, tapi bahasa sangat dipengaruhi oleh budaya dan kebiasaan pengguna bahasa itu sendiri. Pakem logika tidak membatasi aturan berbahasa. Sama halnya saat kita menyebut air putih padahal bening dan bawang merah padahal berwarna ungu. Tidak ada catatan sejarah resmi mengenai penamaan-penamaan ini, namun yang jelas pemberi na...